Akhir semester menjelang ujian seperti ini selalu
ada tradisi ulangan dan tugas yang membuatku muak dengan semuanya tentang
sekolah. Karena aku bosan mengerjakan tugas dirumah maka kuputuskan untuk
mengerjakan tugas di kedai kopi faforitku. Kini aku sampai di kedai kopi dengan
suasana klasik era 80an. Aku duduk sendirian di meja pojok belakang kanan yang
aku pilih karena dekat dengan kolam ikan dan agak menjauh dengan pengunjung
yang gaduh agar bisa lebih berkonsentrasi dengan tugasku. Aku memesan kopi
cappuccino faforitku dan memulai membuka laptopku.
“hubungan kita
hanya cukup sampai disini?” seorang wanita berbicara dengan laki laki ya
mungkin bisa aku simpulkan dia pacarnya.
“maaf aku nggak
bisa memperjuangkan kamu bahkan kita lagi” jawab lemah seorang laki laki.
Suara mereka nampak terdengar jelas karena mereka duduk
tepat di sebelah kanan tempatku duduk.
“kamu lebih memilih
wanita jalang itu daripada aku.. aku yang selalu memberikan semuanya kepadamu”
suara wanita itu meninggi.
Aku melirik sekilas mereka berdua.
“ jaga mulut kamu !
Dia tak lebih kotor dari pada kamu. Aku pernah melihatmu jalan dengan laki laki
jalang tanpa sepengetahuanmu”
Konsentrasiku mengerjakan tugas kali ini buyar semua. ternyata
aku duduk disini saat ini salah besar. Apa mereka tidak mikir ada manusia abege
duduk disini dan tidak khawatir percakapan mereka didengar oleh bocah ingusan
disini.
“apa rasa sayangnya
kepadamu lebih besar daripada rasa sayangku bangsat!” suara wanita itu melemah.
Laki laki yang duduk didepannya hanya diam.
Kulirik wanita itu tidak jelek. Cantik malahan. Mengapa
dia terlalu menaruh harapan dan kepercayaannya kepada laki laki itu. Oke kini
konsentrasiku saat ini mulai kacau.
“kamu lebih memilih menikah
dengan wanita yang nggak tau busuknya kamu di belakangnya itu? Laki laki yang
dia pikir suci, tapi kenyataannya dia pernah meniduri wanita yang dia anggap jalang
seperti ini? Kamu merasa kalau kamu masih perjaka? Heh lihat muka kamu sendiri!
Laki laki bangsat!”
Laki laki itu
menampar wanita itu dan memjadi perhatian pengunjung yang lain.
Aku menyesal duduk disini yang kupikir bisa menyelesaikan
tugasku ternyata hanya membuat aku lemas . ingin sekali aku menampar laki laki
itu yang kelakuannya mempermainkan perasaan wanita. Apa dia tidak sadar kalau
dia mempunyai ibu perempuan dan bagaimana sakitnya jika wanita yang dia sayangi
itu dipermainkan laki laki yang kelakuannya sama seperti dia. Sebenarnya aku
ingin pindah tempat duduk supaya tidak melihat adegan seperti itu. Tapi tidah
ada meja kosong lagi. Oke fix!
“kamu bisa bisanya
berkata seperti itu sebelum kamu melihat diri kamu sendiri bodoh! Heh kamu
siapa? Wanita sucikah kamu?” kata laki laki itu dengan keras.
Aku pura pura tidak mendengar percakapan mereka dan pura
pura fokus dengan laptopku.
Wanita itu menangis
sesengukan. Laki laki itu memegang kepalanya frustasi. Tak terasa butiran
bening dari kelopak mata lelaki itu jatuh. Dia mencoba meraih tangan wanita
itu. Namun wanita itu menolak. Sesekali wanita itu mengusap air matanya yang
jatuh ke pipi tirusnya itu.
“iya, aku memang
wanita jalang, wanita kotor dimatamu, tapi apakah selama ini aku tak pernah
membahagiakan kamu?” suaranya melemah tak seperti tadi.
Mendengar suara wanita itu dalam
hati aku mengutuk laki laki itu tidak akan pernah bahagia
selama dia hidup!
Lalu laki laki itu
menyodorkan sebuah undangan pernikahan dia.
“aku telah
mengandung bayiku tiga bulan” ucap laki laki itu diiringi dengan butiran
air matanya. Mendengar pernyataan laki
laki itu, wanita itu menangis semakin keras.
“sungguh aku
menyesal Sarah, aku mencintaimu” kata laki laki itu.
Dasar laki emang gitu. Ingin sekali aku melempar laki
laki itu dengan cangkir didepanku.
“cepatlah kamu
kembali menjadi Sarah seperti lima tahun yang lalu kukenal. Sarah yang baik dan
Sarah yang berkelakuan baik seperti
dulu. Semoga kamu mendapatkan seorang laki laki yang mampu mengimami keluarga
kamu. Aku pamit. Sampai jumpa” kemudian laki laki itu pergi meninggalkan wanita
itu.
Akhirnya aku lega
setelah laki laki itu pergi. Dan kulihat layar laptopku ternyata dari tadi aku
hanya mengetik kata kata yang tidak bisa dibaca anak TK sekalipun. Setelah
suasana tenang kulanjutkan lagi tugasku yang tadi terpause. Sudah mengetik
beberapa kata kuraih cangkirku setelah kuteguk ternyata sudah habis. Sial. Lalu
kututup laptopku dan kuputuskan untuk kembali kerumah.
0 komentar:
Posting Komentar