Kamis, 05 Juni 2014

Secangkir Kopi

Akhir  semester menjelang ujian seperti ini selalu ada tradisi ulangan dan tugas yang membuatku muak dengan semuanya tentang sekolah. Karena aku bosan mengerjakan tugas dirumah maka kuputuskan untuk mengerjakan tugas di kedai kopi faforitku. Kini aku sampai di kedai kopi dengan suasana klasik era 80an. Aku duduk sendirian di meja pojok belakang kanan yang aku pilih karena dekat dengan kolam ikan dan agak menjauh dengan pengunjung yang gaduh agar bisa lebih berkonsentrasi dengan tugasku. Aku memesan kopi cappuccino faforitku dan memulai membuka laptopku.

“hubungan kita hanya cukup sampai disini?” seorang wanita berbicara dengan laki laki ya mungkin bisa aku simpulkan dia pacarnya.

“maaf aku nggak bisa memperjuangkan kamu bahkan kita lagi” jawab lemah seorang laki laki.

Suara mereka nampak terdengar jelas karena mereka duduk tepat di sebelah kanan tempatku duduk.

“kamu lebih memilih wanita jalang itu daripada aku.. aku yang selalu memberikan semuanya kepadamu” suara wanita itu meninggi.

Aku melirik sekilas mereka berdua.

“ jaga mulut kamu ! Dia tak lebih kotor dari pada kamu. Aku pernah melihatmu jalan dengan laki laki jalang  tanpa sepengetahuanmu”

Konsentrasiku mengerjakan tugas kali ini buyar semua. ternyata aku duduk disini saat ini salah besar. Apa mereka tidak mikir ada manusia abege duduk disini dan tidak khawatir percakapan mereka didengar oleh bocah ingusan disini.

“apa rasa sayangnya kepadamu lebih besar daripada rasa sayangku bangsat!” suara wanita itu melemah. Laki laki yang duduk didepannya hanya diam.

Kulirik wanita itu tidak jelek. Cantik malahan. Mengapa dia terlalu menaruh harapan dan kepercayaannya kepada laki laki itu. Oke kini konsentrasiku saat ini mulai kacau.

kamu lebih memilih menikah dengan wanita yang nggak tau busuknya kamu di belakangnya itu? Laki laki yang dia pikir suci, tapi kenyataannya dia pernah meniduri wanita yang dia anggap jalang seperti ini? Kamu merasa kalau kamu masih perjaka? Heh lihat muka kamu sendiri! Laki laki bangsat!”

Laki laki itu menampar wanita itu dan memjadi perhatian pengunjung yang lain.

Aku menyesal duduk disini yang kupikir bisa menyelesaikan tugasku ternyata hanya membuat aku lemas . ingin sekali aku menampar laki laki itu yang kelakuannya mempermainkan perasaan wanita. Apa dia tidak sadar kalau dia mempunyai ibu perempuan dan bagaimana sakitnya jika wanita yang dia sayangi itu dipermainkan laki laki yang kelakuannya sama seperti dia. Sebenarnya aku ingin pindah tempat duduk supaya tidak melihat adegan seperti itu. Tapi tidah ada meja kosong lagi. Oke fix!

“kamu bisa bisanya berkata seperti itu sebelum kamu melihat diri kamu sendiri bodoh! Heh kamu siapa? Wanita sucikah kamu?” kata laki laki itu dengan keras.

Aku pura pura tidak mendengar percakapan mereka dan pura pura fokus dengan laptopku.

Wanita itu menangis sesengukan. Laki laki itu memegang kepalanya frustasi. Tak terasa butiran bening dari kelopak mata lelaki itu jatuh. Dia mencoba meraih tangan wanita itu. Namun wanita itu menolak. Sesekali wanita itu mengusap air matanya yang jatuh ke pipi tirusnya itu.

“iya, aku memang wanita jalang, wanita kotor dimatamu, tapi apakah selama ini aku tak pernah membahagiakan kamu?” suaranya melemah tak seperti tadi.

Mendengar suara wanita itu dalam hati aku mengutuk laki laki itu tidak akan pernah bahagia selama dia hidup!

Lalu laki laki itu menyodorkan sebuah undangan pernikahan dia.

“aku telah mengandung bayiku tiga bulan” ucap laki laki itu diiringi dengan butiran air  matanya. Mendengar pernyataan laki laki itu, wanita itu menangis semakin keras.

“sungguh aku menyesal Sarah, aku mencintaimu” kata laki laki itu.

Dasar laki emang gitu. Ingin sekali aku melempar laki laki itu dengan cangkir didepanku.

“cepatlah kamu kembali menjadi Sarah seperti lima tahun yang lalu kukenal. Sarah yang baik dan Sarah yang  berkelakuan baik seperti dulu. Semoga kamu mendapatkan seorang laki laki yang mampu mengimami keluarga kamu. Aku pamit. Sampai jumpa” kemudian laki laki itu pergi meninggalkan wanita itu.

Akhirnya aku lega setelah laki laki itu pergi. Dan kulihat layar laptopku ternyata dari tadi aku hanya mengetik kata kata yang tidak bisa dibaca anak TK sekalipun. Setelah suasana tenang kulanjutkan lagi tugasku yang tadi terpause. Sudah mengetik beberapa kata kuraih cangkirku setelah kuteguk ternyata sudah habis. Sial. Lalu kututup laptopku dan kuputuskan untuk kembali kerumah.

0 komentar:

Posting Komentar